Tab Article
Di antara keistimewaan agama ini, ia memiliki syi’ar (tanda-tanda peribadahan kepada Allah) dan masy’ar (petunjuk dan tempat peribadahan) serta berbagai kebaikan dan keutamaan lainnya seperti keistimewaan hari yang agung yaitu “Hari Jum’at”. Dan khutbah Jum’at sebagai keberkahan syi’ar Islam di dalamnya.
Allah berfirman,
وَمَنْ اَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّنْ دَعَآ إِلَى الله وَعَمِلَ صَالِـحًا وَّقَالَ إِنَّنِيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ.
“Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, ‘Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?’” (QS. Fushshilat: 33)
Keistimewaan khutbah dan nilainya memancar dari kedudukan kalimat dalam agama ini, keagungan posisinya, sasarannya yang jauh serta tujuannya yang besar, perkataannya yang indah, gaya bahasanya yang bagus, lafazhnya yang semerbak, maknanya yang memikat, susunannya yang menarik dan pernyataannya yang tepat, niscaya akan menawan orang-orang yang berakal serta mendatangkan pengaruh yang menakjubkan, di mana ia bisa menggetarkan hati dan memenjarakan nurani, karena keindahan asalnya dan kejernihan sumbernya.
Seorang khathib sama dengan dokter. Hendaknya ia terlebih dahulu melakukan diagnosis penyakit masyarakat lalu membuat resep obat yang tepat dengan bijak dan sesuai dosis.
Semua itu dikarenakan seorang khathib bertindak dengan detakan jantungnya, nurani yang hidup, fikiran yang cerah dan perasaan yang peka.
Maka tidak mengherankan apabila khutbahnya saat itu menjadi bahan pembicaraan selama sepekan dan merupakan denyut nadi masyarakat dari semua lapisan.
Seorang khatib hendaknya menjadi contoh yang baik dan menjadi panutan serta dapat diteladani lapisan masyarakat, agar tidak menjadi orang yang disindir oleh ungkapan orang-orang terdahulu.
Orang yang tidak bertakwa menyuruh manusia untuk bertakwa
Tabib mengobati manusia sementara ia sendiri menderita sakit
(Bait sya’ir ini disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Latha`iful Ma’arif (hal. 53 dan 567)).
Khutbah disampaikan secara tegas dan penuh semangat sesuai dengan dalil al-Qur`an dan as-Sunnah tapi tidak meninggalkan sisi kelembutan agar kebaikan yang disampaikan dapat diterima sesuai tujuan isi khutbah itu sendiri.
Diriwayatkan dari Imam Muslim hadits no. 2592 dari Jabir bin ‘Abdullah bahwa Nabi bersabda,
((مَنْ يُـحْرَمِ الرِّفْقَ يُـحْرَمِ الْـخَيْرَ)).
“Barangsiapa yang tidak memiliki sifat lembut, maka tidak akan mendapatkan kebaikan.”
⭐ Anda harus membeli ebook ini sebelum menulis komentar.